Kamis, 26 November 2009

TULISAN TERBARU SAYA

Mengecup Bibir Cantiknya

Mahmud Jauhari Ali



di antara aku dan kau
ada gairah cinta
yang semula malu-malu
menggetarkan langit
menggoncangkan bumi tanpa ampun
dengan mesranya

daun-daun pun mengangguk-ngangguk
menangkap tingkah kita
didampingi gelak tawa
menghiasi samudera bergaram

oh cinta
ke mana dia 'kan membawa kita, kawan
walau tingkah kita berbulu biru
mendekap hati yang rapuh
ditingkahi bumbu-bumbu pedas

surya menganga
air tumpah ruah
dan kita masih bergairah
mengecup bibir cantiknya
di segala jiwa yang menusuk-nusuk

kau kulihat masih gagah
dan aku mencoba tetap berdiri tegak
di antara desah gelisah
menderu angkasa
dari akar-akar cinta

temaram beradu dengan langkah dunia
merekahkan gairah asmara kita
mengecup bibir cantiknya
hingga lahir kata-kata,
uang,
martabat,
dan juga meninggikan
iman dalam dada

hari ini aku kembali bersajak
mendegubkan hatiku dan entah dengan hatimu
untuk mengecup bibir cantiknya
yang indah dan menggoda
jiwaku dan jiwamu

dan biarlah akar-akar cinta ini
tetap membakar gairah asmara
sepanjang detak masih setia bersarang
dalam dekap mesra diri kita, kawan

kuharap gairahku dan gairahmu
berbekas cerita harmonis
di masa kita telah tiada kelak

Tuhan, beri kami perjalanan panjang
menyusuri liku naskahmu
dengan gairah cinta dari-Mu



Kalimantan Selatan, 25 November 2009

TULISAN TERBARU SAYA

Roh Berseloroh di Rawa-Rawa

Mahmud Jauhari Ali



di rawa-rawa senja detik ini
masih ada denyut menggelinjang
dalam dadamu
mengepakkan sayap-sayap kelabu
berhati gurih
ke angkasa penuh warna

rindu telah dijemput
dekat gerbang penantian

ada harapan dalam hatiku
besok adalah cerah tanpa gerah yang sangar
menyelimutiku dan dirimu
dalam riuhnya takbir

malam ini aku menangkap hawa penuh syahdu
ditemani sulur-sulur pohon randu
di tepian sungai keruh
dan beraroma misitis

sementara angin meniupi daun-daun
sepanjang musimnya belum berakhir
di ujung titian amanah
berharap mendekap kembali tahtanya
di hari esok

dan, besok aku ingin mendekap dadaku
bersama dunia


Kalimantan Selatan, 26 November 2009

Minggu, 15 November 2009

TULISAN TERBARU SAYA

________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

_________________________________________________


Angin Lalu

Mahmud Jauhari Ali


debur ombak hanya mampu meraba-raba pesisir pantaimu
dikala senja menutupi pohon-pohon randu
dan kotoran burung menodai jiwa raganya sampai terpuruk layu
kau pun tersenyum manis sambil berkata-kata syahdu
hingga orang-orang mengangguk dan tertunduk di bawah betismu

aku lihat ada napas berdebu-debu dan berbau amis
yang kautarik dan kauhempaskan ke seluruh jagad negeri

dari jauh, indah sekali parasmu
kau tampan, kau cantik, kau rupawan
sosokmu menghiasi dinding-dinding kemiskinan

kulihat daun-daun tumbang sehabis bermesraan dengan bejana megah
lalu banyak pengemis mangais remah-remahnya
walau hanya beling-beling tajam
yang berserakan

dulu dan kini masih berdebu-debu
dari dulu juga ada kelelawar malam melubangi buah segar
kasihan, jamrud menjadi botak sangar
hujan pun belum mampu meruntuhinya
tapi, kita perlu sadar bahwa rintik sekalipun adalah bermakna

tak ada kabut yang kosong
pasir-pasir pantai pun mampu menusuk tubuh
dan, masihkah kita mau tertunduk setia dengan keadaan lusuh?



Kalimantan Selatan, 15 November 2009

Jumat, 13 November 2009

TULISAN TERBARU SAYA

________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

_________________________________________________

Masih Ada Alur


Mahmud Jauhari Ali




bintang-bintang gemerlapan di depan mataku
menghiasi cerita yang belum lagi usai
bintang-bintang lain pun unjuk raga dan kata-kata
mereka bermunculan bagai jamur di musim hujan
hebat!

sungguh tak ada sinetron sebagus cerita ini.
film layar lebar pun kalah seru olehnya

bahkan nama Tuhan yang maha besar itu pun disebut-sebut di dalamnya
ada yang menangis, ada yang marah, ada pula yang memelas
ini sebuah cerita yang teramat menarik

ya, ...ada dua kubu utama bertikai
seperti konflik dalam cerita umumnya
tapi ini beda

alurnya masih berjalan hingga kini
dan, entah siapakah yang akan menjadi kubu sentralnya kelak?

aku masih menantikan akhir ceritanya
semoga tak melahirkan kekecewaan ....



Kalimantan Selatan, 7 November 2009

TULISAN TERBARU SAYA

________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

_________________________________________________

Estafet Cinta


Mahmud Jauhari Ali




benang-benang kusut melambai-lambai dan menenusuk-nusuk
masing-masingnya datang lalu pergi dari istana kita
ya! berlalu dan membekas dalam hidup ini

satu per satu membrangus langkah-langkah menuju indahnya kehidupan
dan, kita tak boleh bergeming menahan tusukan benang-benang kusut itu

ingatkah kau tatkala para pejuang tempo dulu berjuang?
mereka perkasa, walau maut adalah resiko
peluh-peluh, darah-darah, aroma mesiu, dan lainnya berhamburan
mereka pahlawan bangsa

hingga detik ini, secara de facto dan de jure bangsa kita merdeka
tapi, kita masih didera benang-benang kusut
lihatlah koruptor, pembunuh, penjilat, dan pengelana dosa lainnya bergeliat-geliat di atas awan
hingga rakyat terabaikan
perjuangan belum lagi usai!

hari ini adalah hari pahlawan
bangsa kita mengingatnya, mengingat perjuangan pendahulu kita

dan, apakah kita sudah berjuang?
tak cukup peringatan tanpa juang yang nyata
kita, harus membangun bangsa di bawah awan kelabu ini
hingga maut menjemput



Kalimantan Selatan, 10 November 2009

Rabu, 28 Oktober 2009

TULISAN TERBARU SAYA

________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

_________________________________________________



Pemuda dalam Negeri Krisis


Mahmud Jauhari Ali


adakah dikau berkenan menyebut dirimu pemuda tatkala rindumu akan masa anak-anak dulu bergeliat? akankah kau sudi merangkul pemuda berjuang melawan nafsunya? dan relakah kau memunguti sampah-sampah dari makanan pemuda yang nongkrong di pinggir sungai malam-malam? atau mampukah kau berpikir ketika hujan lebat meruntuhi debu-debu jalanan di kemarau panjang menderamu?

pagi ini aku mendengar orang menyebut "sumpah pemuda". mengapa harus sumpah? kita Indonesia, bukan penyumpah, tapi pejuang atas pahit getirnya kehidupan 'tuk meraih wujud dambaan hati. ya, kemakmuran, dan keadilan bagi seluruh tanah tumpah darah kita! negeri kita adalah negeri tambang, negeri bertanah subur, negeri berikan dan begaram, berbukit-bukit indah, tapi apa? kita masih negeri yang ...yang ...tau sendirilah kau. tak perlu kusebutkan lagi.

tahun ini pemuda, lalu esok?
yang tua dulu adalah muda, yang renta juga dulu pernah muda. lihatlah pula buah mangga, ia muda lalu tua dan busuk. lalu kita? akankah kita biarkan kemudaan kita terus memudar tanpa juang? harap tiada guna tanpa gerak batin dan raga. berharap-harap hanyalah celoteh anak usia dini. sementara kita telah muda, maka tak layaklah kita hanya berharap-harap?

pemuda,
kata yang indah. kata yang mewadahi dua jenis kelamin. bukan jenis jantan dan betina, tapi menjadi kekuatan utuh, tidak bercerai-berai. kita tak mengenal perbedaan dalam membangun berbangsa, tapi kita saling menjadi pelengkap antara dua jenis itu ....

hari ini, kita muda, kita berjuang, dan kita tak lupakan pemuda masa lalu. kita tengok perjuangan mereka yang berapi-api hingga panasnya masih terasa hari ini.


Kalimantan Selatan, 28 Oktober 2009

TULISAN TERBARU SAYA

________________________________________________

BERANDA :: ALAMAT :: POS-EL :: TELEPON :: BUKU TAMU

_________________________________________________



Rumah Kaca yang Berlumut


Mahmud Jauhari Ali



lihatlah, piaraan iblis di sana berebut pakan dari limbah rumah tangga. satu menyerang, lainnya merebut. seperti perang masa lalu di dunia busuk. dunia dengan darah tumpah ruah. di sana kekuasaan menelan nurani bagai cahaya ditelan gerhana.

tengoklah pula di belakangmu ada beberapa orang memotong mulut mereka, telinga mereka, hidung mereka, lutut mereka, hati dan jantung mereka, perut mereka, lalu mereka membuangnya begitu saja tanpa izin.

ada lagi yang aneh, orang-orang disiksa penuh kejam, lalu ada yang mati.
bahkan ada yang lucu, orang membunuh dirinnya dengan alasan pasti masuk syurga. aku tak tahu syurga di mana yang mereka maksud, tapi jelasnya adalah lucu.

ingatkah dikau bahwa sudah lama proklamasi didengungkan, terlebih lagi sumpah oleh pemuda silam. tapi, rumah ini masih kacau di sana dan di sini. bukan hal-hal yang kutorehkan di atas saja, dalam pemilihan kabinet pun ricuh, hingga para pendekar pun mencoba meluruskannya. dan entah setelah ini, apalagi ....

rumah ini belum memancarkan pesonanya dengan gagah. dan kita adalah penebar pesona itu, kawan. tugas kita belum selesai .... hari esok menanti kita berpikir, bersikap, berbuat, untuk kemajuan negeri.



Kalimantan Selatan, 28 Oktober 2009